Manusia Bukan Manusia

1. Putut Wijaya dalam bukunya Sang Teroris Mental (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001) mengungkap, “Kalau ia terlibat sebagai manusia, saya senang sekali. Tetapi kalau dia terlibat sebagai pejabat atau penguasa, mungkin saya sedih, kerana saya gagal membuat dia ‘lupa’ pada jabatan dan kekuasaannya untuk kembali sebagai manusia. Saya ingin bicara dengan manusia, bukan dengan dewa, raja, robot, binatang atau mayat”.

2. Apa yang diungkap oleh Putut merupakan punca segala permasalahan dan punca manusia gagal menyelesaikan masalah. Mana mungkin masalah dapat diselesaikan jika ‘egoism’ sudah menggelegak di dalam minda dan hati yang bertahta kekuasaan. Apa saja yang disampaikan walaupun benar tidak akan diterima kerana hadir tanggapan dia sajalah yang super benar dan maha benar. Ditambah lagi dengan bala tentera yang besar jumlahnya berselimut pakaian perang berjenama ‘ampu’. Apa saja yang cuba disampaikan tidak seiring dengan sumpah pendekar bujang lapuk “taat setia tak berbelah bagi selagi jaminan habuan melimpah ruah” akan dihumban ke neraka jahanam ciptaan tangan-tangan mereka sendiri.

3. Di dalam organisasi sering disebut bahawa sukar untuk melafazkan kebenaran apabila berbicara dengan bahu dan bukan dengan akal. Kenapa bahu? Kerana simbol kekuasaan berada di bahu dan tidak berada di akal. Apabila bahu yang berkata-kata, maka yang terpacul keluar dari mulut semuanya berbuahkan arahan yang sarat dengan syarat agar sifar lantunan perkataan ‘TIDAK’ hatta alasan apa sekalipun yang bakal diberi pencerahan.

4. Maka kesesuaian dan kewajaran untuk berselingkuh bersama-sama dengan pemilik keangkuhan dan ‘egoism’ hanyalah spesis burung belatuk dan kakak tua yang semakin membiak menjadi ‘viral’ tak terkawal. Hanya spesis-spesis ini yang mampu menerangkan kegelapan hati dan menghidupkan hari-hari yang mati para dewa, raja, robot, binatang atau mayat.

5. Namun, apakah masalah dan permasalahan akan menemui noktah jika situasi umpama Si Buta dari Gua Hantu ini terus mekar tanpa musim? Masalah hanya akan selesai jika sakit kaki diubati kakinya, sakit pinggang dipingganglah yang dirawatnya dan kencing manis diberi rawatan sesuai dengan kencing manis bukan dengan urutan. Mampukah keadaan ini diwujudkan jika kita berbicara dengan manusia yang tidak berfikir dan merasa dirinya manusia? Sebaliknya beranggapan dialah dewa, raja, robot, binatang atau mayat seperti kata Putut Wijaya itu?

6. Dalam kehidupan kita, bermacam jenis manusia dengan pelbagai karenah dan masalah sering kita temui. Namun demikian, apakah kita akan terus menerima karenah ciptaan manusia-manusia yang tidak mengaku manusia ini terus menerus membolak-balikkan dunia ini hanya atas alasan kekuasaan dan ‘egoism’? Prof. Dr. Hamka ada menyebut bahawa, “Manusia memang selalu lalai memperhitungkan bahawa dia bersalah. Setelah datang malapetaka secara tiba-tiba dia menjadi bingung lalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan takdir Ilahi.” Apakah ini keadilan dan tujuan hidup yang dicari? Jangan egois! kita akan selalu memerlukan orang lain dan jangan merasa bahawa semua hal mampu dilakukan sendiri. Sehebat mana sekalipun manusia, tidak lah mampu ia bergolek masuk sendiri ke liang lahad ataupun memandikan jenazahnya.

7. Akhir kalam, aku hanya ingin menjadi manusia dan akan hanya ingin bicara dengan manusia, bukan dengan dewa, raja, robot, binatang atau mayat.

Wallahualam

~ : sani :~

angkuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s